Beban Kerja Perempuan

 In Kesejahteraan Wanita

Perempuan yang sering digambarkan sebagai manusia yang lemah dan rentan. Pandangan yang menyoroti bahwa perempuan adalah manusia yang tidak layak untuk bekeja keras, merupakan hal yang seharusnya diluruskan. Sedangkan, laki-laki sebagai manusia yang kuat dan mampu menjadi pemimpin. Dimana dalam iklan, kerap kali perempuan yang lebih ditonjolkan untuk memperkenalkan sebuah produk, sedangkan laki-laki sebagai pelengkap. Hal tersebut kerap terjadi, tetapi memang sedikit yang menyadarinya, dan dianggap menjadi hal yang biasa.

Sampai manusia dibelahan bumi manapun masih terus memproduksi, tetaplah ada kehidupan. Sama halnya dengan kehidupan pada perempuan dan laki-laki, yang ada kesalingan didalamnya. Menariknya, saat ini terlihat persoalan yang tidak semua orang mengetahui, yaitu persepsi terhadap peran Perempuan pada Iklan yang disamakan dengan Laki-laki. Lalu yang menjadi pertanyaan, bagaimanakah beban kerja yang seharusnya dilakukan oleh perempuan?

Sumber Foto

Menjadi pembicaraan yang selalu dipertanyakan, dan belum ada habisnya. Terkadang memang padangan masyarakat terhadap iklan itu tidak lebih kuat daripada penelitian yang telah membuktikan. Oleh karena Gender merupakan sebagai sumber daya sosial. Seperti menurut Jhally (1987), “dalam periklanan modern, jenis kelamin merupakan sumber daya sosial yang paling digunakan oleh para pengiklan. Namun, kebanyakan dari pengiklan sering salah paham dalam penggambaran jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Dalam penggambaran tersebut yaitu bahwa jenis kelamin digambarkan oleh conflating seks, gender, dan seksualitas, memanfaatkannya sebagai hal yang telah dilabelkan pada mulanya (stereotip).

Jika melihat sejarah, banyak perempuan yang sebenarnya menjadi sumber inspirasi bagi setiap insan. Tidak hanya menjadi sebuah obyek pada iklan ataupun pada kerjanya. Dan, yang tidak selalu menonjolkan secara gender, melainkan dapat menginspirasi melalui kecerdasan intelektual dan karakternya. Dalam hal tersebut terlihat bahwa profesional iklan bergantung pada konsep stereotip, yang menyatakan persepsi laki-laki dan perempuan yang mengatakan bahwa perempuan cenderung sebagai makhluk yang rentan atau lemah dan memerlukan perlindungan. Sedangkan laki-laki sebagai makhluk yang kebal atau kuat terhadap pengaruh sebuah media.

Sumber Foto

Persepsi tersebut berakar dalam wacana masyarakat yaitu budaya-kognitif, menyebabkan perspektif etika yang sempit dan ketidakgiatan pada bagian periklanan dalam penggambaran tanggung jawab kaum laki-laki. Alhasil, pada hal tersebut, harus bisa dipatahkan untuk dapat memulai perubahan yang signifikan pada beban kerja yang seharusnya dilimpahkan bagi perempuan. Dimana, perempuan nantinya tidak akan dipandang sebelah mata oleh kaum laki-laki, dan dapat memenuhi nilai-nilai feminis. Selain itu, perempuan memiliki peran penting dalam beban kerjanya secara utuh, yaitu tidak hanya menjadi sebuah obyek yang dijual melalui jenis kelaminnya ataupun dipandang secara seksualitas saja. Akan tetapi, perempuan menjadi salah satu tonggak utama dalam perubahan pada semua aspek (pendidikan, sosial, ekonomi, budaya) untuk Indonesia yang lebih maju.

 

Sumber 1

Recommended Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.